Kamis, 19 November 2015

November Rain(?)

Hingga saat ini, mungkin untaian kata, bait demi bait, bahkan serentetan do'a tak cukup menyembuhkan luka yang disebabkan oleh kesalahan diri sendiri.
Mengapa selalu ada penyesalan? Karena tidak siap untuk menghadapi resiko yang menghampiri.
Tahukah? Ini adalah bulan yang selalu dirindukan dari bulan-bulan yang lainnya? Tahu mengapa? Jawabannya hanya satu. Ya, November Cheers #dulunya.
Tahukah? Dulu amat sulit mempercayai bahwa November Rain itu adalah nyata, dan bukan hanya sekedar lagu untuknya?
Bukan hanya bercerita tentang segerombolan hujan yang sering datang keroyokan pada bulan ini, tetapi juga mempelajari, memahami lebih dari sekedar rasa bahwa jatuh berkali-kali dan mengetahui alasannya namun tetap melakukan hal yang sama adalah hal yang sangat sulit untuk dapat dilakukan, tapi mengapa hujan bisa? Bahkan menemani dan menciptakan suasana hening, kebahagiaan dan ketenangan. Semoga malam ini, hujan kembali turun diiringi dengan keberkahan-Nya untuk dunia yang semakin sulit untuk dimengerti ini.

Dulu...
Kebahagiaan itu selalu terselip di tengah kesedihan. Menanti indahnya kebersamaan, diiringi tawa, suka dan bahagia. Apakah kalian merindukannya?
Lima tahun, sepuluh tahun, bahkan lima belas tahun selanjutnya kalian merindukan hal ini? Tahukah, bahwa ia amat sangat merindukannya? Semuanya kini berbeda, mereka tak akan pernah tahu. Tahukah bahwa ia merindukan kalian yang dulu? Kemana perginya?
Bahkan November Cheers pun tak ada artiya lagi, lantas pantas saja November Rain selalu ada. Mulai lima tahun yang lalu, saat ini, dan mungkin lima tahun yang akan datang.

Tahukah? Ia mengalir begitu saja, terjun, jatuh bebas tanpa beban. Bahkan pemiliknya pun tak mampu menahan buliran itu. Semampu dan sekuat mungkin, bahkan setegar apapun. Ketika mengingat, mengetahui dan memahami apa yang sebenarnya terjadi, dan apa yang seharusnya tidak dan harus dilakukan. Mengapa jadi seperti ini? Mengapa semuanya terlihat begitu mencekik selera humornya? Rasa ingin tertawa bahkan bahagia? Semuanya hilang begitu saja, lenyap. Tanpa ada satupun yang bisa dan mampu mengembalikannya hingga semua bisa seperti dulu lagi. Pernah berfikir untuk mengakhiri semuanya dengan mengatakan apa seharusnya dikatakan. Tapi, tidak semua orang mampu melakukannya. Tidak semudah menulis nama seseorang di selembar kertas, bahkan melakukannya seperti mencoba menulis nama seseorang yang kau sayangi di pinggir pantai dengan kestabilan ombak yang payah. Terbayang? Begitulah. Ia terlampau amat sangat sulit untuk dilakukan dengan mental tempe, hati yang rapuh dan tak mampu melawan kesedihan. Terbiasa dengan kebersamaan, gelak tawa, canda yang seharusnya memang ada.

Hanya November Rain,
Hi..
Kali ini, ia menunggu detikdetik gilirannya. Mungkinkah akan berbeda? Atau sama saja?
Seperti hal ini? Semuanya terlalu mudah #kelihatannya untuk dilakukan, dan tanpa merasakan apapun. Tapi tahukah? Rasanya bahkan untuk menghirup udara bebas saja, dadanya sesak. Otaknya tak mampu berfikir, apa yang akan terjadi. Namun, semuanya telah diatur, apa yang terjadi, maka atas kehendak-Nya maka terjadilah.
Berharap terlalu baik tak boleh, berharap terlalu buruk pun tak boleh, tahu kan? Semua yang mengindikasikan "terlalu" itu tak akan pernah berhasil. Tak baik, bahkan Sang Pencipta pun tak menyukainya. Berharaplah untuk mendapatkan yang terbaik, setidaknya memohon untuk selalu diberikan ketegaran dan ketabahan. Semoga selalu dilindungi, dimanapun ia berada oleh-Nya.
November Rain, terima kasih..

Bukannya Allah tak tahu remuknya hati...
Bukannya Dia tak peduli pedihnya diuji..
Namun, Dia Maha Tahu.. kita mampu mengadapinya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar